Kisah

Posted on: July 8, 2019, by :

Si Tuli yang Bisa Mendengar

Dikisahkan pada abad ketiga Hijriah tersebut nama seorang ulama besar bernama Syekh Hatim bin Ulwan Al-Asham di daerah Khurasan. Ia menjadi rujukan dan tempat bertanya masyarakat di zamannya baik laki-laki maupun perempuan.

Ia dipilih oleh masyarakat karena ketinggian ilmu dan keluhuran pekertinya.

Pada suatu ketika seorang perempuan mendatangi Syekh Hatim bin Ulwan untuk berkonsultasi atas masalah yang sedang dia hadapi. Diawali dengan basa-basi pembukaan, perempuan ini menceritakan awal permasalahannya panjang lebar.

Namun, di saat itu ia merasakan keganjilan dalam perutnya.
Ia ingin kentut.
Dengan sekuat tenaga ia menahannya agar tidak keluar di hadapan seorang ulama besar yang disegani masyarakatnya.
Alhamdulillah ia berhasil meredakan gejolak itu.

Ia meneruskan cerita dengan sedikit gelisah.
Ia kemudian menjelaskan masalah seperlunya. Karena kehilangan konsentrasi, ia mengakhiri ceritanya dengan sebuah pertanyaan.

Tetapi malang, suara kentut terdengar persis di ujung kalimat pertanyaan.
Wajahnya merah karena malu.
Mau sekali rasanya ia mati di tempat.
Ia merasa telah menghina ulama besar yang dihormati penduduk seisi Khurasan di hadapannya.
Ia memastikan Syekh Hatim bin Ulwan mendengar suara kentut tersebut.
Ia menunggu cemas kalimat yang keluar dari Syekh Hatim bin Ulwan.

Adapun Syekh Hatim bin Ulwan yang sejak awal mendengarkan perempuan itu sambil mengusap-usap dagunya sempat terkejut.
Tetapi ia berhasil menjaga sikap seolah tidak terjadi apa pun.
Ia yakin tamunya tidak melakukan hal tidak sopan itu dengan niat dan sengaja.

Ia tahu persis perempuan di hadapannya merasa bersalah hebat.
Ia berpikir keras untuk mengembalikan harga diri tamunya.
Ia tidak sampai hati membiarkan tamunya pulang dengan rasa bersalah.
Langsung terpikir olehnya untuk bersikap sebagai seorang tua yang tuli.
Ia meminta tamunya untuk mengulang pertanyaan tersebut.

Syekh Hatim berseru keras padanya, “Apa yang kau katakan barusan? Aku tidak mendengarnya.
Coba ulangi dan keraskan suaramu ya!”

Kalimat permintaan dari Syekh Hatim bin Ulwan itu melegakan pikirannya.
Mengetahui tuan rumah kurang pendengaran karena tuanya, betapa puas hatinya. Kepercayaan dirinya datang kembali.
Ia yakin Syekh Hatim bin Ulwan juga tidak mendengar kentutnya.
Ia kemudian mengulangi pertanyaannya.

Kalimat “Coba keraskan suaramu!”

menjadi kebiasaan Syekh Hatim selama 15 tahun ke depan. Ya, beliau menunggu sampai wanita itu wafat.

Barulah setelah itu, ia kembali menunjukkan pendengaran beliau sebenarnya normal dan baik-baik saja.

Ternyata, selama ini beliau hanya pura-pura tuli untuk menutup aib dan menjaga perasaan wanita itu.

Tapi, terlanjur sudah, beliau digelari Al-Asham atau si tuli dan beliau ridha atas panggilan itu.

Dari kisah tersebut kita tahu seberapa besar Syekh Hatim memuliakan seorang tamu sekaligus seorang wanita.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.”

Dan satu hal lagi yang perlu kita perhatikan, beliau rela pura-pura menjadi tuli karena ingin menjaga kehormatan tamunya dan menutup aibnya.

Berbeda dengan kita yang sering mengumbar aib seseorang dan menyebarkan kejelekan tanpa memikirkan perasaan orang lain yang pastinya merasa sakit hati.

Seperti yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW:
وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يوم القيامة

“Barang siapa yang menutup aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat.”

Dan sabda Rasulullah SAW:
لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.”

Di hari kiamat nanti semua manusia akan dikumpulkan untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya di hadapan Allah. Dan semua manusia dari zaman Nabi Adam sampai zaman akhir ikut menyaksikan segala perbuatan yang telah kita lakukan di dunia termasuk aib-aib kita.

Jadi, jika kita menutup aib sesama muslim di dunia maka Allah telah menjamin untuk menutup aib kita nanti di hari kiamat.
Semoga kita termasuk dalam golongan tersebut, Aamiin.

Semoga bermanfaat